Antusias Hadapi Tanjakan

Jawa Pos - 11 Apr 2015

>SIAP-SIAP: Head of Asia Pacific Rapha Sarah Clark (kanan) merakit sepeda bersama suaminya, James Clark, di Hotel Pullman tadi malam (10/04).

SURABAYA - Tepat pukul 7 pagi ini, ajang Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2015 dilaksanakan. Sebanyak 727 cyclist dari 13 negara akan berjuang menaklukkan rute yang terbentang dari Surabaya hingga Wonokitri, Pasuruan, itu. "Menu akhir" rute tersebut adalah tanjakan yang sangat menantang, namun dengan nuansa alam yang sangat indah.

Seluruh peserta menggunakan jersey berwarna ungu dengan tambahan motif polkadot pink . Sementara road captain mengenakan jersey biru muda dengan motif polkadot biru tua.

Hingga tadi malam (10/4) seluruh peserta telah tiba di Surabaya. Peserta paket ketiga menjadi kelompok terakhir yang melakukan pendaftaran ulang. Meski lelah karena menempuh perjalanan panjang, mereka tetap menampakkan antusiasme untuk menghadapi event sepeda terbesar di Indonesia tersebut. Tak terkecuali para cyclist asing yang baru kali pertama menjajal rute Bromo 100 Km.

Salah seorang cyclist asing itu adalah Sarah Clark, head of Asia Pacific Rapha. Sarah datang bersama suaminya, James Clark. Keduanya mengaku tertarik mengikuti ajang tersebut setelah mendengar keindahan alam kawasan Bromo dari seorang kawan. Apalagi, keduanya sedang mencari tantangan baru dalam bersepeda.

"Kami merasa bosan dengan rute yang kami akrabi selama lima tahun terakhir di Singapura. Di Singapura rute yang ada terlalu datar. Apalagi, di Indonesia terdapat banyak cyclist," terang James.

Persiapan keduanya pun terbilang matang. Februari lalu Sarah dan James bersepeda menaklukkan Gunung Doi Inthanon di Thailand. Keduanya sepakat bahwa itu merupakan rute terberat yang telah mereka lalui.

"Namun, saya tetap penasaran dengan Bromo. Doi Inthanon merupakan latihan yang bagus sebelum menaklukkan tanjakan di Bromo. Kondisi yang dihadapi pasti bakal berbeda di setiap rute," jelas Sarah.

Pesepeda asing asal Kolombia Juan Pablo Ramirez juga tidak kalah antusias dengan Bromo 100 Km. "Seminggu sebelumnya saya pergi ke Kota Kinabalu. Di sana saya berlatih rute tanjakan sejauh 50 kilometer," ungkap pengagum berat pembalap asal Kolombia yang juga juara Giro d'Italia 2014 Nairo Quintana itu.

Pablo datang dengan ditemani kekasihnya, Ponnie Atmaja. Tak sekadar menemani, Ponnie juga ikut gowes ke Bromo. Keduanya mengaku tak sabar untuk segera memacu sepedanya. Terlebih, Pablo mengaku suka dengan siksaan yang dialami saat melintas di tanjakan. "Rasa nyeri di paha itu yang paling saya suka. Terkesan mengerikan memang. But I like it! Dia (Ponnie) juga menyukai rasa sakit itu," ujarnya lantas tertawa.

Kemarin, untuk pemanasan, peserta Bromo 100 Km 2015 ramai-ramai bersepeda santai dari Surabaya menuju Dawar, Gresik. Sebanyak 60 sampai 70 cyclist dari beberapa klub hadir dalam acara yang diprakarsai Rapha, produsen sepeda paling elite di dunia asal Inggris, itu.

Dalam acara tersebut hadir Marketing Manager Greater China and South East Asia Rapha Christopher Chen Pin Liang. "Acara hari ini hanya untuk mengajak orang-orang keluar bersama. Supaya kami bisa berada dalam performa yang baik untuk menaklukkan tanjakan di Bromo," katanya kemarin.

Chris, sapaan akrabnya, menerangkan bahwa ini bukan kali pertama dirinya bersepeda di Indonesia. Pria berkebangsaan Singapura itu pernah mengeksplorasi wilayah Jakarta dan Jogjakarta. Dia pun mengaku excited untuk menaklukkan tanjakan terakhir menjelang finis yang merupakan siksaan bagi cyclist tersebut. (rif/c9/nur)