Perubahan Cuaca Lengkapi Tantangan Taklukkan Tanjakan

Jawa Pos - 12 Apr 2015

UNIK: Peserta Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2015 mendapat kejutan dari kelompok pesepeda asal Malang yang berdandan ala suporter Giro d'Italia (balap sepeda di Eropa). Mereka dipimpin Davide Vecchi, cyclist asal Italia yang tinggal di Malang.

Panas di Pertengahan, Dingin dan Hujan di Finis

PASURUAN - Sebastian Sudirjo langsung mengacungkan jempol tangan kirinya begitu melintasi garis finis Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km di Wonokitri, Pasuruan, Jatim, kemarin (11/4) . Remaja berusia 15 tahun itu patut bangga karena berhasil menaklukkan tanjakan panjang dan melelahkan. Apalagi, Sebastian tercatat sebagai salah seorang peserta termuda di ajang tersebut.

"Tanjakannya benar-benar gila. Sempat ingin nyerah dan loading naik mobil. Namun, karena jarak tinggal 4 kilometer (km), aku paksa terus. Saya berjanji kembali lagi tahun depan untuk menyelesaikan tanjakan ini," tegasnya.

Secara keseluruhan, event Bromo 100 Km kemarin berlangsung lancar. Peserta berangkat tepat pukul 7 pagi dari Mapolda Jatim. Stage pertama adalah rute pemanasan dengan jalur flat sepanjang 59,4 km menuju Pendapa Kabupaten Pasuruan.

Rombongan peserta pun bisa menjalani rute awal itu dengan sangat lancar. Jalur Surabaya-Pasuruan yang biasanya dipenuhi bus dan truk menjadi sangat ramah terhadap para cyclist berkat pengamanan dari jajaran Polda Jatim.

Peserta tiba di pit stop pertama di Pendapa Kabupaten Pasuruan pada pukul 09.08. Di sana mereka beristirahat sekitar 40 menit, kemudian melanjutkan perjalanan dengan dilepas Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf. Tepat pada pukul 11.00, rombongan mulai memasuki pit stop kedua di KUD Sembodo Puspo.

Perjalanan terakhir menuju finis dimulai pukul 11.30. Beberapa peserta mampu menyelesaikan menu terakhir berupa tanjakan panjang itu dalam waktu kurang dari dua jam. Mereka mulai memasuki titik finis pada pukul 13.12.

Tantangan terbesar peserta Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km tahun ini bukan hanya masalah tanjakan. Cuaca yang berubah cukup drastis menjadi menu berat yang harus dijalani. Dampaknya, beberapa peserta bekerja ekstrakeras, bahkan sebagian mengalami kram kaki.

Tak sedikit pula peserta yang menuntun sepeda saat melintasi tanjakan-tanjakan curam. Namun, bagi peserta yang bisa sampai finis tanpa loading, kelelahan mereka terbayar dengan kepuasan menaklukkan tanjakan terindah di Jawa Timur itu.

"Speed saya memang pelan. Capek, rasanya seperti mau mati. Selain itu, cuaca menjadi kendala. Namun, yang terpenting, saya bisa finis tanpa loading," ujar Direktur Cannondale Indonesia Anne Widjaja.

Ponnie Atmadja setali tiga uang dengan Anne. Cyclist asal Jakarta Selatan tersebut juga mengalami kendala dengan cuaca. Bahkan, perempuan berusia 34 tahun itu mengalami ban bocor saat berada di 5 kilometer terakhir.

"Rute Bromo 100 Km jauh lebih berat dari yang saya bayangkan. Stamina saya terkuras cukup banyak. Tanjakannya benar-benar sadis!" ungkap kekasih cyclist asal Kolombia Juan Pablo Ramirez tersebut.

Bukan hanya pesepeda dari dalam negeri yang merasa tersiksa. Hal yang sama dirasakan pesepeda asing. Salah satunya Alexander Ivakov. "Ketika berangkat rasanya panas sekali. Tapi, saat mulai menanjak, cuacanya sangat mendukung meskipun sebenarnya terlalu dingin untuk saya. Terutama ketika 5 kilometer terakhir," terang cyclist asal Inggris tersebut.

Saat berangkat dari Mapolda Jatim, suhu udara memang cukup hangat. Di luar dugaan, suhu tersebut terus meningkat hingga mencapai 36 derajat Celsius di sekitar KUD Sembodo Puspo. Namun, peserta harus merasakan suhu dingin dan berkabut, bahkan mulai turun hujan, di 8 kilometer terakhir.

Dirut PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda yang menjadi salah seorang road captain mengakui, drastisnya perubahan cuaca benar-benar terjadi di luar perkiraan. "Suhu lebih panas dari yang kami perkirakan. Apalagi, simulasi selalu dilakukan di musim hujan. Jadi, suhu 36 derajat itu jauh di luar perkiraan. Tapi, saya pikir itulah tantangan dari climbing kita. Tidak boleh makan dan minum terlalu banyak. Harus bisa mengatur energi," terangnya.

Ketua Surabaya Road Bike Community (SRBC) Khoiri Soetomo justru mengaku terbantu dengan perubahan cuaca tersebut. Pria yang juga menjadi road captain pada Bromo 100 Km 2015 itu menyatakan sangat terbantu dengan hujan yang turun di rute terakhir. Tanpa hujan, dia mengaku tak akan bisa sampai finis.

"Secara keseluruhan, gelaran Bromo 100 Km tahun ini saya rasa lebih lengkap. Ada dataran rendah dan berganti ke dataran tinggi. Demikian juga dengan suhunya yang berganti-ganti. Hangat, panas, dingin, dan hujan. Saya rasa event kali ini jauh lebih berkesan dan lebih mudah untuk diingat," jelasnya.

Kejutan juga hadir dalam gelaran Bromo 100 Km 2015. Davide Vecchi, cyclist asal Italia yang tinggal di Malang, mengajak rekan-rekannya menghibur para peserta dengan cara unik. Menggunakan wig yang dicat warna-warni, mereka menyemangati cyclist dengan gaya mirip suporter balap sepeda di Eropa.

"Saya selalu mengikuti event sepeda yang diadakan Jawa Pos Cycling. Termasuk Audax dan Bromo 100 Km tahun lalu. Tahun ini saya sengaja tidak ikut untuk memberikan kejutan dan menyemangati para peserta," ujarnya. (rif/cak/c9/fat)