Catatan Jenaka Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2015

Jawa Pos - 19 Apr 2015

SUDAH dua tahun Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km diselenggarakan. Dua kali pula saya diminta menjadi MC acara menanjak yang sangat menantang itu. Dan tahun 2015 ini (11 April lalu), acara terasa serba "gila".

Acara sukses dan penuh emosi. Diselenggarakan lebih baik daripada tahun pertama. Dukungan Provinsi Jawa Timur, Polda Jawa Timur, Kabupaten Pasuruan, dan para sponsor sangat luar biasa.

Pemerintah provinsi dan Kabupaten Pasuruan layak diacungi jempol. Dengan semangat Bandung Bondowoso, jalanan berlubang berubah menjadi lebih rata.

Padahal, sebelumnya jalan menuju Pasuruan dari Surabaya banyak dijuluki para cyclist dengan istilah "Pasuruan Roubaix". Meminjam nama lomba Paris-Roubaix di Prancis, yang dikenal sebagai lomba terberat karena melintasi jalanan kasar dan berbatu.

Polda Jatim memberikan pelayanan pengamanan luar biasa. Bahkan, mengerahkan helikopter untuk memantau jalannya acara sampai selesai. Benar-benar menambah gengsi event, menjadikannya mirip acara balap kelas dunia yang selalu ditayangkan di Eurosport.

Sebenarnya, hari itu saya berperan ganda. Di satu sisi jadi MC, di sisi lain jadi wartawan foto "koran Facebook SRBC (Surabaya Road Bike Community)".

Nancy Siagian, partner MC saya, berhasil saya "kibuli". Supaya saya bisa memotret para peserta bersepeda, dia selalu saya usulkan ke panitia untuk berangkat duluan ke pos selanjutnya.

Saya menyusul kemudian, sambil memotret para peserta. Baik dari dalam mobil maupun saat dibonceng motor Honda para marshall.

Foto-foto yang saya ambil -berikut oleh para fotografer Jawa Pos- merupakan senjata perang urat saraf di antara para cyclist. Sudah bukan rahasia, sesama cyclist saling tantang dan bully-mem-bully di media sosial. Tentu saja dengan konteks bercanda dan yang dihina dilarang marah. Itu merupakan tradisi persahabatan dan persaudaraan di kalangan cyclist.

Bagi mereka, "loading" alias diangkut mobil merupakan istilah sakral, dan perbuatan itu tergolong "haram". Sangat malu kalau sampai ketahuan tidak kuat, dan itu dibuktikan lewat foto yang dimuat di koran atau di-upload di jejaring sosial.

Ketika ada moncong kamera mengarah, para cyclist spontan bakal "berakting". Pokoknya, tidak boleh kelihatan tidak kuat.

Ketika meng-upload foto-foto saya ke halaman Facebook, sempat ada peserta yang berkomentar: "Untung foto loading saya tidak ada."

Setelah semakin banyak foto dipasang, dia lantas berkomentar lagi: "Lho, itu yang loading saya. Ha ha ha..."

Banyak foto saya upload di Facebook SRBC dengan caption lucu. Tujuannya, mengapresiasi perasaan puas peserta saat menaklukkan tanjakan menuju Wonokitri tersebut.

Misalnya, ketika ada seorang peserta berhenti dan turun dari sepeda, saya beri caption "Uhuk-uhuk ditinggal". Foto itu pun jadi acuan bully-mem-bully. Sampai yang difoto harus menjelaskan, bahwa dia berhenti karena matanya pedih kena lelehan sunblock.

Saya juga meng-upload foto peserta yang menanjak naik sepeda lipat (seli) merek Bike Friday. Saya beri keterangan: "Bike Friday tapi sepedaannya hari Sabtu."

Saat ngemsi, saya juga menggoda para peserta dengan "ancaman". Saya bilang, "Jawa Pos akan memuat satu halaman liputan peserta yang finis, dan dua halaman untuk yang loading."

Tentu saja para peserta tertawa ngakak.

Untuk menutup malu karena takut dianggap tidak kuat, segala cara dilakukan para peserta. Yang paling gampang adalah "menggandol" kendaraan yang lewat. Atau minta didorong ojek.

Banyak hal yang saya pelajari dari para peserta. Karakter seseorang muncul dalam menyikapi permasalahan saat bersepeda. Hampir semua karakter asli keluar tanda tersadar. Jujur, bohong, setia kawan, atau jiwa fighter.

Harus diakui, siapa pun yang berani ikut event ini harus diberi acungan jempol. Tanjakannya sangat berat, panas juga luar biasa. Plus dingin hujan menyambut peserta yang finis di belakang.

Dan sekali lagi saya -dan fotografer lain- senang bisa jadi "motivator". Gara-gara lensa kamera, banyak cyclist yang hendak menyerah jadi terus berjuang. Anggap saja lensa kamera sebagai suplemen anti-loading.

Lensa Kamera Suplemen Anti-Loading

Pelajaran lain: Bromo 100 Km punya slogan "Beautiful Climb, Beautiful Challenge". Tanjakannya memang cantik, tantangannya memang luar biasa. Tapi, tidak ada peserta yang kelihatan cantik atau ganteng saat menanjak. Semua bermuka "jelek" dengan raut muka aneka ragam. Peace! Ha ha ha ha...

Kan ada salah satu kutipan lucu para cyclist: "Saya ganteng karena turunan, ketika menanjak jelek lagi..." (Dewo Pratomo)