Cyclist Mancanegara Berbagi Perasaan tentang Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2015

Jawa Pos - 26 Apr 2015

ATUR TENAGA: Scott Bales mengayuh sepeda melintasi rute yang terus menanjak menjelang titik finis di Wonokitri, Pasuruan. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Remuk di Puspo, SMS Istri, Bangkit Lagi

Pernahkah Anda dipanggang pada suhu 40 derajat Celsius dengan kaki yang sudah kerengkelan (mengayuh naik tanjakan), kemudian di puncak mendadak disiram hujan lebat? Jika belum, tentu Anda sedang tidak berada di Bromo pada akhir pekan lalu (11/4).

BEBERAPA tahun sebelumnya saya melahap medan di Genting (Genting Highland, Malaysia), Graser, dan bahkan Lembah Yarra di Melbourne, Australia. Namun, tak ada satu pun yang mampu membuat saya bisa bersiap melalap rute Bromo 100 Km.

Tiap tahun Jawa Pos selalu menggelar sebuah acara bersepeda nonkompetitif sepanjang 100 km dari jantung Kota Surabaya ke kawasan puncak Gunung Bromo. Gunung itu berketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dan, ya, yang membuat kami kelelahan setengah mati adalah 2 kilometer terakhir pada etape final.

Sebelum mengikutinya, saya tak begitu berharap (mendapat pengalaman wow). Namun, begitu polisi menggiring kami dari hotel ke garis start, saya langsung takjub. Ribuan orang menanti di pinggir jalan, helikopter polisi terus berkeliling di atas kami. Ditambah barisan pengawalan terhadap 700 pesepeda yang melintasi jalan, dengan cepat saya tahu bahwa ini bukan sebuah event bersepeda biasa.

Sepanjang perjalanan, sebuah drone terbang di atas peloton, seperti membuka jalan. Apa yang membuat kami merasa luar biasa? Ribuan orang berbaris di pinggir jalan untuk berteriak, mengibarkan bendera kecil, dan melambaikan tangan kepada setiap pesepeda yang melintas agak ke pinggir.

Saya merasa seperti pesepeda profesional. Membuat seksi pertama rute tersebut seperti tak terasa. Padahal, jaraknya 57 km.

Sebelum event, kami diberi tahu bahwa akan ada tanjakan gila yang harus dilintasi. Tapi, tetap saya berpikir bahwa tanjakan tersebut tak akan sebegitu menantang seperti di Genting. Bahkan, awalnya saya sempat menolak ketika disarankan untuk mengganti crank sepeda saya. Namun, toh karena merasa tak enak, saya menggantinya ke settingan 50/36. Untunglah, saya melakukannya.

Di perjalanan berikutnya, saya selalu menatap komputer kecil yang menunjukkan jarak tempuh perjalanan. Masih flat, 73, 74, 75, dan pada 78 km, dunia mendadak berubah. Jalan mulai menanjak. Meski beberapa pesepeda terlihat mulai berhenti, saya masih tetap merasa kuat. Kaki asyik mengayuh, hati masih gembira, dan segala sesuatunya masih terasa baik.

Saya mempercepat kayuhan untuk bergabung dengan pemimpin rombongan. Saya tetap yakin, saya masih tetap akan bisa finis bersama-sama pemimpin rombongan. Tapi, saya melupakan satu fakta. Yakni, matahari bersinar sedemikian rupa di rute kami sehingga suhu mencapai hampir 40 derajat Celsius. Benar-benar mendadak berat. Saat harus memaksa tubuh untuk beradaptasi dengan panas yang menyengat, rute sudah mulai menanjak 10 persen.

Komputer saya sudah menunjukkan 82 km. Saya masih berada di rombongan depan, tapi tubuh saya mulai menjerit. Pikiran saya hanya ingin cepat-cepat sampai di pit stop kedua, tapi di mana tempatnya? Apakah masih jauh? Saya memaksa untuk segera sampai, tapi sekaligus memaksa diri terlalu berat. Bahkan, sebelum mencapai pit stop di Km 84, tubuh saya mulai menyerah.

Seharusnya ini adalah bagian enteng dari tanjakan, tapi tubuh saya sudah protes: "Apa yang kamu lakukan? Masih ada tanjakan berat lainnya yang menunggu". Ketika akhirnya sampai di pit stop kedua, saya merasa sudah tamat. Saya merasa ini saya sudah DNF (do not finish). Ketika terhuyung berjalan di pit stop kedua (KUD Sembodo Puspo, Pasuruan), saya mematikan komputer dan bersiap untuk menyerah. Saya benar-benar remuk. Sebuah DNF.

Sembari meneguk air, saya mengirim SMS ke istri. "Tidak terlalu menanjak, tapi saya sudah tidak kuat. Saya mau berhenti. Memang tak sampai 17 km, tapi tanjakannya makin ngawur". Saya butuh tujuh menit untuk mendapat balasan. Maklum, sinyal di sana lemah. Saya sudah makan nagasari serta minum coke dan es tebu sembari memulihkan diri. Jawaban SMS istri saya singkat, sederhana, dan to the point: "Bertahanlah. Kamu bisa".

Ini cukup meyakinkan saya untuk kembali naik sepeda. Tapi, kali ini saya harus menyeimbangkan ego dengan membiarkan para pemimpin rombongan meninggalkan saya beberapa menit ke depan. Rencananya sederhana saja. Bagaimana bertahan hampir sampai puncak. Di depan kami terhampar rata-rata tanjakan 10 persen hingga 11 persen, dengan tanjakan terakhir sebelum finis 22 persen. (*)

Serasa Dipeluk Gerbang Finis

SEPANJANG menuju finis, saya bertahan sekuat tenaga. Sebab, tak ada semeter pun rute flat untuk sekadar membuat kaki beristirahat. Delapan km dari finis, panitia telah menyiapkan sebuah drink stop. Dengan kalkulasi rata-rata kecepatan, saya butuh satu jam lagi untuk finis.

Bersama teman saya, Larry Sperling, kami memutuskan untuk bersantai senjenak. Sebagai penggila espresso, saya membuka double espresso saya. Rasanya memang tidak seenak espresso asli, tapi saya sudah membayangkan berada di sebuah kafe mungil pegunungan.

Saat kami masih bersantai, Colin Tay (salah seorang rekan) mendadak butuh dorongan semangat. Kami segera mengayuh sepeda kembali untuk menemani. Saat itu kaki kami benar-benar hancur. Sampai harus berhenti secara periodik untuk mengatur kram. Melaju meter per meter. Sebuah perasaan aneh melanda kami. Ini tidak biasanya terjadi pada seseorang yang biasanya melaju di Singapura dengan kecepatan rata-rata 36 km/jam.

Di sekeliling kami, banyak terlihat kendaraan pengangkut para pesepeda yang tidak kuat. Salah seorang pesepeda bahkan punya seorang pesepeda motor yang mendorongnya sejauh 1 kilometer, kemudian memotretnya, kemudian mendorongnya lagi, dan berfoto lagi. Yah, setidaknya dia punya kenang-kenangan foto bagus.

Tak terasa, kami sudah berada pada 2 kilometer terakhir. Langit beranjak gelap dan hujan deras tiba-tiba datang. Hawa dingin pun menyergap, membuat perjuangan kami makin sulit. Saya sudah tak tahu lagi harus tertawa atau menangis. Namun, ada sesuatu pada hujan yang membuat Anda mendapatkan kembali kekuatan dan mendorong Anda untuk bertekad mengalahkan semua kelemahan. Kilometer terakhir dipenuhi para pesepeda yang tergeletak di pinggir jalan. Mereka telah memaksa diri lebih dari kemampuannya. Mendorong sepedanya atau tergeletak dengan kaki kram. Kru sampai harus bekerja keras untuk membersihkan lintasan. Hampir semua kendaraan mengangkut lebih dari sepuluh sepeda para cyclist yang telah menyerah.

Ketika tanjakan terakhir terlihat, saya tahu bahwa ini adalah akhirnya. Sebuah tekad muncul untuk memaksa diri, saya menyentuh batas akhir kemampuan. Saya mulai berdiri di atas sepeda dan mengayuh dengan penuh kekuatan, menuntaskan 300 meter terakhir. Di depan terbentang sebuah jalan dengan kemiringan 22 persen, kemudian membelok sepanjang 100 meter. Setelah itu, terlihat gerbang finis yang seolah hendak memeluk saya atas apa yang telah saya perjuangkan.

Di tengah kebingungan antara hujan, penderitaan, dan keringat, saya memberikan sepeda saya kepada kru sebelum akhirnya melahap dua mangkuk mi hangat. Bercengkerama dengan sepuluh pesepeda lainnya, kami merilekskan diri sambil menggeleng-gelengkan kepala mengingat pendakian yang menakjubkan tersebut.

Sulit dibayangkan masih saja ada sejumlah kecil pesepeda yang memilih kembali nggowes pulang kembali sepanjang 100 km. Saya tahu bahwa saya pasti akan ikut lagi tahun depan. Siapa yang mau bergabung dengan saya. (*)