Survivor Kanker Tularkan Inspirasi

Jawa Pos - 18 Apr 2016

PEMANDANGAN HIJAU: Para peserta Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM menanjak di kawasan Desa Wonokitri. Mereka melaju setelah pit stop kedua di Desa Puspo.

Yang Tersisa dari Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM

SURABAYA - Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM memang sudah usai pada 16 April. Namun, ternyata ajang climbing paling heboh itu menyimpan banyak cerita. Mulai yang inspiratif hingga yang paling lucu.

Untuk urusan itu, mari dengarkan cerita dr Hari Nugroho SpOG. Dia sejak lama ingin finis di Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM. Sabtu lalu dokter spesialis kandungan itu benar-benar puas karena bisa merealisasikan keinginan itu. Padahal, kemarin adalah kali pertama dia ikut event tersebut.

Lucunya, dokter Hari merasakan hal aneh pada tubuhnya. Cyclist yang memulai hobi road bike pada 2012 itu mengalami peningkatan detak jantung yang tak biasa. Dia mengaku, sebelum bersepeda, heart rate normalnya hanya 90 detak per menit. "Nah, kemarin (Sabtu, Red), baru keluar rumah aja, udah 130 detak per menit. Itu kenapa coba? Heran saya," katanya.

"Saya itu mungkin antara takut atau terlalu excited ya? Sejujurnya, kemarin itu saya pertama kali ke Bromo. Jadi, antara bingung, nggak ada bayangan, takut, campur aduk semuanya, semacam demam panggung kali ya, ha ha ha," imbuhnya.

Hari mengatakan, tanjakan tertinggi yang pernah ditaklukkannya berada 1.300 mdpl. Sedangkan Bromo lebih tinggi lagi, yakni 2.000 mdpl dengan gradien maksimal 18 persen. Jadi, menaklukkan tanjakan makin susah karena oksigen semakin sedikit.

Pada akhirnya, dia mengaku bangga karena bisa finis di Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Itu menjadi debutnya di Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM. "Rasanya benar-benar puas. Ternyata, deg-degan saya sebelumnya itu pertanda baik," lanjutnya.

Ada pula kisah inspiratif Lee Yu Keong, cyclist asing dari Malaysia. Bisa dibilang Lee merupakan cyclist istimewa. Dia divonis mengidap kanker pada 2010. "Waktu itu saya sedang melakukan pemeriksaan kesehatan dan dokter menemukan tumor di ginjal saya," katanya.

Lee menjalani operasi pada Desember 2010. Sebelum aktif cycling, dia lebih dulu mencoba running. "Namun, saat saya lari, saya merasa sakit di sekujur tubuh. Makanya, saya berlabuh ke cycling untuk recovery. Kini saya sudah sembuh karena pola hidup sehat dan cycling yang saya jalani," tuturnya.

Meski baru kali pertama mengikuti Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM, Lee mampu finis di Desa Wonokitri. Semangat Lee itulah yang menjadi inspirasi bagi cyclist lain. Terutama bagi mereka yang mengetahui bahwa Lee adalah survivor kanker.

Menurut Lee, itu semua bisa tercapai karena tekad yang kuat. Selain itu, dia sudah terbiasa bersepeda saban hari di Malaysia. "Persiapan yang matang serta tekad yang kuat itu akhirnya berbuah hasil manis. Saya bisa menaklukkan tanjakan di Bromo ini," ucap pria yang berulang tahun sehari sebelum pelaksanaan event itu.

Tak melulu kisah serius, kisah yang lucu juga menyelingi Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM 2016. Salah satunya datang dari Rivan Jaya Limantara, cyclist dari Banjarmasin. Dia mengunggah foto selfie-nya dengan sepeda di kasur hotel yang diinapinya. Tentu dengan caption foto yang heboh: Sehati-sejiwa, besok kita bertempur bersama.

"Itu dadakan saja, spontan setelah selesai setel sepeda. Pakai wheel set baru, spesial untuk Bromo. Sampai Surabaya, s

aya setel ulang lagi semuanya. Habis selfie, sepedanya saya taruh lagi di pojok," ujar Rivan.

Bagi dia, sepeda bukanlah barang semata, tetapi juga kawan karibnya. Cyclist 41 tahun itu memperlakukan sepeda seperti manusia. "Sepeda itu seperti teman sendiri. Soalnya, kalau sepeda ada trouble dikit aja, yang naik pasti kerasa nggak enak," imbuhnya, lantas tertawa.

Keisengannya ternyata "menular" kepada rekan sekamarnya sesama peserta. Yaitu, Adi Santosa Jaya yang merupakan adik ipar Rivan. Seakan tak puas bila ber-selfie dengan sepeda di atas kasur, Adi menaruh sepedanya di atas bathtub.

Menurut Adi, event sekelas Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM harus diikuti dengan antusiasme yang tinggi. "Nah, itu cara kami menyambut event Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM, yaitu dengan berbagai kehebohan. Salah satunya ya dengan foto-foto tadi," ujarnya, lalu diselingi dengan tawa. (mat/nes/c11/nur)


UNIK: Francesco Bruno, cyclist asal Italia, bersama istri, Widi Nugrahati, berhasil menempuh garis finis dengan sepeda tandem.


RAPI: Sebanyak 938 cyclist mengular saat melintas di tol buntung ruas Jalan Raya Porong-Tanggulangin.