Gran Fondo Bintang Lima

Jawa Pos - 30 Aug 2015

MELET DIPANCING DUIT: Dewo Pratomo memancing Hendy Christian asal Bangil dengan duit biar gowesnya tambah kenceng

Catatan Gran Fondo Jawa Pos East Java 2015

Oleh: DEWO PRATOMO



 MERINDING dan bangga. Itulah yang saya rasakan dua hari bersama Gran Fondo Jawa Pos East Java 2015, 22-23 Agustus lalu. Kalau saja jantung dan otot kaki saya kuat, pasti saya akan menjadi peserta. Tapi, jadi MC juga solusi bagus untuk bisa mengikutinya.

 Saat jadi MC dalam acara welcome dinner, saya bikin guyonan mengapa banyak cyclist senang bersepeda di Jawa Timur. Jawabannya bukan hanya karena keindahan alam atau kulinernya. Melainkan faktor iklim, karena Jatim sejuk suhu politik maupun keamanannya.

 Terbukti, dua hari bersepeda, 322 cyclist dari 15 negara bersukacita. Polda Jatim beserta jajaran di daerah melakukan pengamanan secara smooth. Bukan hanya simpul-simpul jalan yang dikawal, pasar dan pompa bensin yang dilewati juga dijaga supaya peserta bisa melintas dengan sangat nyaman.

 Kalau dicatatkan ke Museum Rekor Dunia Indonesia, pasti event ini akan mendapat predikat area car free day terbesar di Indonesia!

 Saya sempat waswas ada potensi keresahan pengguna jalan. Tapi, pengamatan saya malah sebaliknya. Event ini jadi hiburan gratis. Bus, truk, angkutan kota, dan kendaraan pribadi parkir di bahu jalan. Penghuninya turun menjadi suporter sambil mengarahkan handphone berkamera.

 Inilah ke-PR-an alami. Dengan mengunggah foto di jejaring sosial, nama Jatim akan melambung ke seantero dunia.

 Walau mayoritas rutenya datar, tanjakan-tanjakan yang dilewati tetap masuk kategori menyiksa. Apalagi panas mencapai 40 derajat Celsius. Sebagian besar peserta masuk pit stop Gunung Kelud (hari pertama) dengan muka jelek. Mulut komat-kamit bukan berdoa, melainkan kulakan oksigen sebanyak-banyaknya. Seperti ikan mujair!

 Setiap kota/kabupaten yang menyambut juga luar biasa. Menunjukkan ketahanan pangan yang istimewa. Kalau banyak eventyang menyediakan makanan dan minuman pas-pasan, di GFJP East Java dijamin berlebih-lebih.

 Pada pengujung hari pertama di Kediri, peserta mendapat suvenir kain dan syal tenun khas kota tersebut. Saya bilang saja kepada peserta bahwa itu hadiah yang cocok. Maksudnya, cocok untuk menutup wajah ketika malu tidak kuat menanjak pada hari kedua, ke Telaga Sarangan!

 Sepanjang jalan, banyak orang/anak-anak sekolah yang bersorak menyambut. Praktis, hanya satu yang bisa menghentikan laju peloton peserta: Lintasan kereta api. Kalau saat menanjak ada gelar King of the Mountain (KOM), maka lintasan itu juga "KOM". Artinya, "Keretane Ora Mandeg" (keretanya tidak berhenti), hehehe...

 Sambil mengikuti peserta di dalam mobil, saya ikut memotret. Iseng mencari korban jepretan. Sesekali saya menggoda peserta. Kaca jendela mobil saya buka, tangan kiri saya memegang uang Rp 50 ribu dan tangan kanan memegang kamera. Lalu, saya berteriak-teriak: "Cash back! Cash back!" Hitung-hitung melepas ketegangan peserta, khususnya yang wajahnya palingmirip ikan mujair tadi.

 Hari kedua benar-benar hari yang "ditunggu". Main course alias suguhan utamanya ada di akhir, menanjak ke Telaga Sarangan. Ketika memasuki Kabupaten Magetan, menjelang tanjakan, rute pening memang berubah menjadi sinting.

 Ketika tanjakan mulai menyapa, peloton pun memanjang dan terpecah-pecah. Yang kuat di depan, makin tidak kuat makin ke belakang. Panasnya udara membuat beberapa peserta desperate minta air ke mobil-mobil panitia. Termasuk mobil yang saya tumpangi.

 Lagi-lagi saya iseng saja. "Mau air dingin atau panas?" tanya saya. "Kalau panas dari radiator..." Untuk melepas ketegangan, saya juga membuka jendela, memutar lagu dangdut koplo sekeras-kerasnya. Peserta pun menganggut-anggut mengikuti iramanya, bahkan ada yang ikut berjoget sambil bersepeda.

 Soal tanjakan Sarangan? Bagian terberat memang hanya sekitar 7 kilometer terakhir. Tapi benar-benar sakit, dengan kemiringan mencapai belasan persen.

 Semakin dekat ke puncak, tampak-nya, peserta memang semakin kesakitan. Tapi, mereka malu turun dari sepeda, karena banyak peserta lomba foto Jawa Pos Radar Madiun yang siap menjepret!

 Para cyclist memang paling tidak mau dipotret turun mendorong,hahaha... Sampai ada peserta yang saat dipotret berhenti dan berteriak: "Ban saya pecah, bukan loading!"

 Salut untuk semua yang terlibat dalam event ini. Banyak peserta yang bilang akan kembali lagi pada acara Jawa Pos selanjutnya, dan akan merekomendasi teman-temannya untuk ikut serta. Ini benar-benar event bintang lima!

 Dan ada peserta yang rupanya senang dengan keisengan saya, baik saat jadi MC maupun saat menemani peserta. Yaitu, teman-teman Medical Doctor Bicycle Community dari RS Karyadi Semarang.

 Mereka mengaku bukan dokter sakit jiwa karena mau disiksa dalam event ini. "Tapi, Mas Dewo yang gila saat jadi MC. Saya ini spesialis bedah saraf Mas, saya undang Mas Dewo ke Semarang. Saya siap operasi sarafnya supaya kembali normal. Pokoknya gratis..."(*)

© Copyright 2015 Jawa Pos.
All Rights Reserved