Naik Turun Naik Turun di Malang Selatan

Jawa Pos - 07 May 2017

BONUS PEMANDANGAN: Rombongan peserta Gran Fondo Jawa Pos East Java Malang 2017 melintasi kawasan Pantai Parang Dowo, Gedangan, Kabupaten Malang, kemarin.
Potensi Besar untuk Jadi Rute Favorit

MALANG - Ajang Gran Fondo Jawa Pos East Java Malang 2017 kemarin (6/5) bisa jadi rute Gran Fondo yang paling variatif. Bagaimana tidak? Peserta disuguhi rute dengan paket lengkap sepanjang 167 km. Tanjakan, turunan, dan rolling menjadi menu yang sangat asyik untuk dilahap.

Start bertempat di Balai Kota Malang. Sebanyak 655 cyclist dari 9 negara dilepas Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan Wali Kota Malang Mochammad Anton pada pukul 06.00 WIB

Gus Ipul –panggilan Saifullah Yusuf– mengapresiasi ajang Jawa Pos Cycling kali ini yang merambah Kota dan Kabupaten Malang sekaligus. Bagi Gus Ipul, Malang, terutama bagian selatan, punya potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. "Ini sekaligus menjadi ajang promosi wisata di Jatim. Terutama untuk para peserta dari mancanegara," ujarnya sebelum mengibarkan bendera start.

Di etape pertama, peserta menempuh jarak 55 km menuju pit stop 1 yang bertempat di kantor Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Meski baru etape pertama, jangan salah, tanjakannya cukup menyakitkan. Dengan gradien maksimal sampai 18 persen, tanjakan di Jalan Raya Gunung Pletes itu mampu membuat para peserta yang tak terbiasa bertumbangan.

Di sinilah peloton mulai terpecah. "Rutenya bagus, tapi tanjakannya cukup melelahkan. Untung, masih ada hutan di kanan dan kiri jalan," ucap Kepala Korps Lalu Lintas Polri Brigjen Pol Royke Lumowa yang ikut gowes kemarin.

Memang itu tidak sepanjang tanjakan di ajang Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km. Namun, di etape tersebut banyak peserta yang terpaksa menuntun sepeda. Sebab, jalannya begitu menanjak. Apalagi, memang banyak jalan berlubang yang mewarnai perjalanan menuju pit stop pertama. Peserta dari Belgia Dietmar Dutilleux memaklumi banyaknya jalan berlubang tersebut.

"Karena banyak lubang, pas gowes gemetar terus, tapi tak apa. Di Belgia, ada yang lebih parah lagi. Sebab, banyak batu juga di sana. Tanjakan di sini berat, tapi lumayan enak," katanya. Menurut Dutilleux, dibutuhkan kesigapan mengoper gir dalam menghadapi tanjakan tersebut.
Meski banyak yang tak kuat, salah satu peserta putri, Isna Iskan, tetap bertahan tanpa menuntun. "Tadi sepedaku girnya tidak bisa diganti, jadi agak susah. Tapi seru," katanya.

Dari pit stop 1, peserta menempuh jarak 48 km menuju pit stop 2 di kawasan Pantai Balekambang di Kabupaten Malang. Gradien rute tersebut maksimal 21 persen.

Peserta dari Singapura Azmi Othman mengaku puas dengan rute kali ini. Cyclist yang baru kali pertama mengikui ajang Jawa Pos Cycling tersebut tertarik untuk ikut lagi pada event berikutnya. "Very nice. Di Singapura, tidak ada tanjakan yang seperi ini, it’s good lah. But not easy for me," ujar Azmi.

Di pit stop 2, peserta beristirahat hingga pukul 11.30 dan bersiap melanjutkan perjalanan sepanjang 43 km menuju pit stop 3 di Pendapa Kabupaten Malang. Rute di etape ketiga merupakan rute neraka. Kombinasi tanjakan, cuaca panas menyengat dengan temperatur mencapai 39 derajat Celsius, plus angin yang berembus cukup kencang membuat puluhan peserta menyerah dan memilih loading.

Tanjakan memang tidak terlalu panjang, tapi temperatur yang panas membuat para peserta kelelahan dan tak lagi melanjutkan gowes ke etape keempat, yakni bersepeda hingga finis di Balai Kota Malang. "Rute ini memang berat untuk pemula karena biasanya (di event lain, Red) ada etape yang datar terus, baru nanjak. Ini di etape pertama saja nanjaknya curam dan etape kedua tanjakannya lebih berat," ucap Direktur Utama PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda.

Menurut Azrul, rute rolling dengan rangkaian tanjakan dan turunan sebenarnya lebih melelahkan jika dibandingkan dengan rute yang full tanjakan saja. "Tantangan staminanya gede. Tiga etape hampir nggak pernah nggak nanjak,’’ imbuhnya.

’’Tapi, di antara Gran Fondo yang pernah kami selenggarakan, ini rute yang paling variatif. Ada pantai, ada tanjakan. Tanjakannya pun macam-macam. Ada yang tanjakan curam, ada yang (tanjakan, Red) landai tapi agak panjang, ada rolling yang istilahnya shark tooth (gigi hiu, Red), naik turun lengkap ini," katanya.

Menurut dia, rute kali ini berpotensi besar untuk menjadi rute cycling utama dan favorit di Jatim. "Karena di mana lagi ada rute sepeda yang lengkap? Ada gunung dan pantai. Semoga para peserta tidak kapok," katanya. (nes/c11/nur)