Hari Ini Lahap Menu Berat

Jawa Pos - 23 Aug 2015

MELAJU: Sebanyak 322 cyclist dari 15 negara melintasi bundaran waru, Sidoarjo. Pada hari pertama kemarin, mereka mengayuh sejauh 183,6 kilometer dari Surabaya menuju Kota Kediri

Event Jadi Pengungkit Bangun Kawasan

KEDIRI - Wajah-wajah lelah para cyclist peserta Gran Fondo Jawa Pos (GFJP) East Java 2015 berubah menjadi ceria saat berada di taman Balai Kota Kediri kemarin sore (22/8). Kepenatan setelah menempuh jarak 183,6 kilometer (km) dari Surabaya terbayar lunas dengan jamuan yang diberikan pemerintah kota setempat.

Wali Kota Kediri Abdullah AbuBakar tidak hanya menggelar jamuan makan, tetapi juga melangsungkan lomba-lomba khas Indonesia, 17 Agustusan. Mood para peserta yang riang gembira bisa menjadi modal bagus untuk melahap tantangan kedua hari ini. Rute sepanjang 146,4 km dari Kediri menuju Telaga Sarangan itu memang lebih berat daripada kemarin.

"Ya, hari ini tanjakannya masih belum seberapa. Besok 6 kilometer terakhir adalah tanjakan sesungguhnya," kata road captain yangjuga Direktur Utama PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda kemarin.

"Jadi, nanti malam (tadi malam,Red) boleh bermimpi mengenai tanjakan di Sarangan. Bisa dilihat di YouTube kok," imbuh Azrul yang lantas disambut tertawa kecut para peserta.

Ada tiga lomba 17-an yang diadakan sebagai penutup event hari pertama: lomba bakiak tandem, lomba memasukkan pensil ke dalam botol, dan lomba makan kerupuk. Dalam lomba kemarin, yang kalah pun tetap bisa ter senyum. Sebab, semuanya mendapat hadiah. Namun, yang menang tetap punya pride.

Yang dirasakan Hendy Christian misalnya. Berpasangan dengan Cipto S. Kurniawan, Hendy juara bakiak tandem. "Kapan lagi mengalahkan bule di lomba bakiak!" kata Hendy, lantas tertawa lebar.

Chief Commissaire Puspita Mustika menjelaskan bahwa lomba pagi ini dimulai dengan start pukul 06.00. Jadi, peserta berangkat dari hotel sejak pukul 05.00. Dia juga mengingatkan para peserta untuk mempersiapkan diri dengan beristirahat cukup.

Hari pertama GFJP ternyata berlangsung di luar bayangan banyak peserta. Einar Larssen misalnya. Paginya cyclist Norwegia itu terlihat bersemangat dan menyatakan sangat siap menempuh perjalanan. Namun, ketika ditemui di posko 3 di Kelud, napasnya sudah satu-satu. Kakinya juga kram. "Wuhh...berat juga rute ini," katanya.

Rute Surabaya-Mojokerto-Pare-Kelud tersebut memang cukup menipu. Sepintas memang datar atau flat saja. Seharusnya tidak terlalu berat, bahkan untuk ukuran cyclist yang tidak begitu terlatih sekalipun. Tanjakan paling tinggi hanya 8 persen dan itu pun di akhir-akhir rute. Sehingga banyak cyclist yang sejak pagi terkesan tidak terlalu menganggap berat jalur tersebut. Hanya bersepeda dengan jarak jauh. Begitu saja.

Tetapi, saat hari H ternyata ada dua faktor yang luput diperhitungkan banyak peserta. Yang pertama adalah cuaca dan yang kedua headwind (angin yang ber embus langsung ke arah peserta).

Matahari bersinar terik, membuat suhu di sepanjang perjalanan rata-rata 32 derajat Celsius. Baru sampai Krian, udara sudah terasa seperti memanggang para cyclist. Terutama sejumlah cyclist yang mengenakan helm time trial.

Menjelang masuk Mojokerto peloton sudah pecah menjadi banyak. Sejumlah cyclist bahkan sudah tercecer sendirian dan berjuang melawan faktor kedua: angin. Beberapa bahkan sampai dibantu marshal. Ada pula cyclist yang memilih berada di belakang sepeda motor patwal untuk "mencuri angin".

Rute yang tampaknya sederhana dan mudah dilalap mendadak menjadi rute neraka. Hingga finis di Kediri, total tercatat 30 pembalap yang kram. "Rutenya ternyata tidak mudah. Anginnya sangat ken cang, terutama ketika terpisah dari rombongan," ucap cyclist asal Amerika Serikat Mark Winkel.

Secara umum, para peserta sangat menikmati rute hari pertama. Asumsi mudah tapi ternyata berat justru membuat para cyclist menganggapnya asyik. Larssen bahkan sudah tak sabar menanti hari kedua. "Saya sudah tak mau berprasangka. Tapi, saya akan melahap semua rute pada hari kedua dengan senang," ucapnya lantas tersenyum.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Makassar Ismail Tallu Rahim sampai-sampai mengangkat dua jempolnya untuk event tersebut. "Sebagai peserta, kami sangat puas. Semua pihak bekerja sama dengan baik. Mulai panitia, pemerintah daerah, hingga polisi," pujinya.

Selain itu, rute dari Kelud ke Balai Kota Kediri sepanjang 40 km adalah debut Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar untuk nggowes. "Saya sempat khawatir. Apalagi, Mas Wali Kota ini berada di depan, nampes angin. Ternyata kuat juga. Wah, ini calon cyclist yang baik," kata Azrul menggoda wali kota. Yang digoda langsung tertawa lepas.

Abdullah lantas menyatakan terima kasih karena kotanya diberi kepercayaan menjadi tuan rumah event tersebut. "Jujur ini kehormatan bagi Kediri. Semua orang bisa melihat Kediri. Ayo silakan jika mau berinvestasi di sini," ajak Abdullah sekaligus mempromosikan kotanya.

Pernyataan yang sama meluncur dari Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf saat start pagi di Mapolda Jatim. GFJP, kata Gus Ipul, sapaan Saifullah, merupakan ajang yang bisa meningkatkan pembangunan kawasan di Jatim. (mat/nes/c9/ano/nur)

© Copyright 2015 Jawa Pos.
All Rights Reserved