Semua Terkesan, Semua Bahagia

Jawa Pos - 24 Aug 2015

MELAJU: Peserta Gran Fondo Jawa Pos East Java 2015 melintas di depan Telaga Wahyu, Magetan. Rute hari kedua dimulai dari Kediri menuju Telaga Sarangan dengan jarak 146,4 km.

Menjadi Event yang Tak Terlupakan

MAGETAN - Dialog lucu dan aksi kocak lintas bangsa menjadi penutup acara Gran Fondo Jawa Pos (GFJP) East Java 2015. Dietmar Dutilleux, cyclist asal Belgia, menjadi penjual sate yang melayani Bupati Magetan Sumantri Noto Adinagoro dan Dirut PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda.

Dewo Pratomo, emcee acara, meminta Dutilleuxsegera memberikan sate kelinci khas Sarangan kepada sang Bupati. Tapi, dia menolaknya. "Jangan. Harus matang dulu. Biar tidak sakit perut," ucap ekspatriat yang sudah 20 tahun tinggal di Indonesia dan cukup fasih bicara bahasa Indonesia tersebut. Ucapan spontan Dutilleux itu langsung mengundang tawa hadirin.

Jual sate Dutilleux tersebut menjadi aksi simbolis penutupan GFJP 2015 yang berlangsung dua hari, 22 dan 23 Agustus. Diikuti 322 cyclist dari 15 negara,touring sepeda itu menempuh jarak 330 km dari Surabaya menuju Telaga Sarangan di Magetan.

Pada GFJP 2015, king of mountain (KoM) alias raja pegunungan kali pertama dilombakan. Rute dari Kediri menuju Telaga Sarangan, terutama 6 km terakhirdengan kemiringan konstan lebih dari 10 persen (maksimal 17 per sen), menjadi hidangan utama pada hari kedua.

Ada empat kategori yang dilombakan, yakni kategori usia 30 tahun ke bawah, kategori 30-40 tahun, kategori lebih dari 40 tahun, dan kategori perempuan. Kemarin kaum hawa yang menjadi ratu pegunungan adalah Susan Tan. Perempuan dari klub Joy Rider Singapura itu mengaku tidak menyangka bisa menang.

"Saya kira hanya faktor keberuntungan saja," katanya ketika ditemui di garis finis. Menurut Susan, semua cyclist perempuan yang ikut dalam event tersebut memiliki kemampuan di atas diri nya. Hanya, sebut dia, para cyclist perempuan itu lebih banyak berhenti. Terutama di akhir-akhir etape. "Kalau saja tidak berhenti, tentu mereka yang akan menang," ucapnya merendah.

Susan mengakui beratnya rute pada hari kedua. "Sangat berat. Untung, banyak yang meneriaki don't give up, don't give up. Jadi,saya kembali semangat (mengayuh sepeda, Red)," katanya.

Etape hari kedua memang di luar sangkaan semua peserta. Terlebih, cuaca cukup menyengat dengan suhu mencapai 38 derajat Celsius. Einar Larsen, si raja pegunungan untuk kategori 30-40 tahun, mengakuinya. " It was so hard. It was so hard," katanya saat ditanya bagaimana lomba hari kedua.

"Panasnya ini yang bikin ampun-ampun," imbuh Sandy, cyclist Banyuwangi. Menurut dia, biasanya masih ada mendung atau hawa dingin yang membuat cuaca tidak terlalu ekstrem panasnya. Tapi, kemarin cuaca benar-benar sangat panas.

Seperti pada hari pertama, justru panas ekstrem itulah yang membuat event GFJP makin berkesan. Menjadikannya tak terlupakan. "Saya sangat menikmati event ini," kata Larsen.

Hal lain yang membuat berkesan adalah sambutan masyarakat yang luar biasa di sepanjang etape. Hampir di sepanjang jalan penduduk setempat keluar dan menonton serta merekam dengan telepon genggam.

Selain itu, para cyclist dimanjakan dengan aneka kesenian yang di tampilkan di sepanjang jalan. Ada drum band, ada kesenian tari-tarian, dan ada pula barisan prajurit kuno di Madiun. "Luar biasa sekali. Sangat berkesan untuk kami yang datang dari belahan dunia yang lain," ungkap cyclist Belgia Michael W. Mier mengomentari penyambutan yang ada.

Sambutan yang diberikan tiap-tiap daerah yang menjadi pit stop juga menarik. Di Nganjuk, misalnya, selain membuat taman mereka cantik, pemkab setempat serius menyambut tamu-tamunya. Antara lain dengan ajang panjat pinang dan reog. Sejumlah cyclist bule tampak berselfie dengan reog. "Kami berterima kasih atas kedatangannya dan kami menampilkan apa yang Nganjuk punya," ujar Bupati Nganjuk Taufiqurrahman.

Begitu pula halnya di Madiun. Begitu peserta masuk, ada deretan prajurit kuno yang berdiri tegap dan menjadi objek foto yang menarik. Para cyclist itu di sambut langsung Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto.

Azrul Ananda pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. "Event ini sungguh luar biasa. Saya mengucapkan terima kasih kepada semuanya dan semoga bertemu di event berikutnya," kata Azrul ketika memberikan sambutan penutup di Sarangan kemarin.(mat/nes/c9/ano/nur)

© Copyright 2015 Jawa Pos.
All Rights Reserved