Tantangan Paket Komplet

Jawa Pos - 23 Apr 2017

PEMANDANGAN INDAH: Cyclist dari SRBC dan RCC melintasi kawasan Pantai Balekambang dalam tes rute Gran Fondo Jawa Pos East Java Malang 2017 kemarin. Ajang ini berlangsung pada 6 Mei mendatang.
Simulasi Rute Gran Fondo East Java 2017

MALANG - Ajang Gran Fondo Jawa Pos East Java Malang 2017 digelar pada 6 Mei mendatang. Kemarin (22/4) 40 cyclist dari Surabaya Road Bike Community (SRBC) dan Ratjoen Cycling Club (RCC) melakukan simulasi rute dalam jarak yang sudah ditentukan, yakni sejauh 167 kilometer (km).


Rombongan berangkat dari depan Balai Kota Malang dengan start pukul 06.00 WIB. Beragam trek yang dilewati bakal sangat menantang bagi para peserta yang telah terdaftar pada event ini. Trek itu terbagi atas empat etape.


Di etape pertama, rombongan menempuh jarak 55,5 km menuju pit stop 1 yang bertempat di BPD Sumbermanjing Wetan. Peserta dimanjakan dengan udara sejuk, juga pemandangan persawahan, pegunungan, dan hutan.


Meskipun di etape pertama pemandangan indah sudah tersaji, trek yang dilalui tak lantas akan mudah. Peserta sudah menghadapi tanjakan dengan gradien maksimal 13,7 persen pada etape tersebut. Rute flat, tanjakan, turunan, dan rolling adalah tantangan paket komplet yang harus dihadapi para peserta. Bukan hanya itu, banyaknya jalanan berlubang juga merupakan rintangan bagi para peserta dalam trek menuju pit stop 1.


"Lubangnya banyak sekali, harus dihindari," tutur Ferry Martalatta Lobis, salah seorang road captain. Ferry menyatakan, akan lebih baik bila nanti dalam event sesungguhnya yang akan diikuti 596 cyclist, para peserta dibagi dalam beberapa peloton untuk mengantisipasi kondisi trek itu.


Sebab, tanjakan yang harus dilewati membutuhkan kesigapan dalam pemindahan gir. Turunan juga perlu diperhatikan karena cukup curam dan disertai tikungan. "Orang yang fit saja, kalau salah gir, jatuh satu orang, yang lainnya di belakang pasti kena semua," ucapnya.


Road captain lainnya, John Boemihardjo, mengingatkan, melintasi jalanan rolling dengan adanya lubang cukup dalam tersebut membutuhkan konsentrasi penuh agar tidak terjatuh. "Lubang tidak bisa diterabas karena bahaya. Kalau sampai masuk lubang, ban bisa gembos karena lubangnya dalam," tutur John.


Lebih lanjut John mengimbau para peserta menggunakan chainring 34 dan sprocket 32 di tanjakan. Lantaran tanjakan yang dihadapi juga cukup panjang, John menyarankan para peserta bersabar dan tak tergesa-gesa. ” Triknya, waktu nanjak, tidak boleh dihajar langsung,” tambahnya.

Dari pit stop 1, rombongan kemudian bergerak menuju pit stop 2 pada pukul 08.17. Peserta diajak melintasi kawasan Pantai Balekambang di Kabupaten Malang, sekitar 60 km di selatan Kota Malang. Pantai Balekambang menjadi lokasi pit stop 2 dalam GFEJ Malang 2017.


Di etape kedua yang berjarak 47,8 km tersebut, peserta ditantang tanjakan dengan gradien maksimal 21 persen. Panasnya cuaca yang mencapai 35 derajat Celsius kemarin menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Tikungan dan turunan curam juga mendominasi etape kedua itu.


Pit stop 3 bertempat di Kantor Bupati Malang dan terakhir peserta akan menempuh jarak 21 km menuju titik finis yang kembali bertempat di Balai Kota Malang. Kecepatan maksimal peserta dalam simulasi tersebut adalah 56 km/jam dan kecepatan ratarata 24 km/jam.


John berpesan kepada seluruh peserta agar mengukur kemam- puan diri masing-masing dalam event nanti. Bila merasa lambat, cyclist disarankan tidak berada di peloton depan karena akan memengaruhi para cyclist di belakangnya. Dari hasil simulasi tersebut, John juga mengimbau para peserta menggunakan alloy wheelset dalam ajang nanti. ”Dianjurkan pakai alloy. Kalau wheelset karbon sangat berbahaya untuk rute kali ini,” tuturnya.


Senada dengan John, Ferry Martalatta menjelaskan, saat turunan dan bila hujan, sepeda cyclist yang menggunakan wheelset karbon tidak bisa direm dan tetap jalan. Akibatnya fatal untuk keselamatan, apalagi jika turunan sangat curam. "Jangan sekali-kali pakai wheelset karbon kalau touring seperti ini," tegas Ferry. (nes/c9/nur)