Melawan Panas di Gran Fondo Terbesar

Jawa Pos - 14 Oct 2017

TELITI : Dua cyclist dari Women Cycling Club (WCC), Natascha Oking (Kanan) dan Diana Sevi, Dibantu Ade Mongol saat merakit sepeda di garden palace kemarin (13/10). Natascha adalah istri Kaka Slank.
Pagi Ini Gran Fondo Jawa Pos Suramadu 2017 Bergulir

SURABAYA – Gran Fondo terbesar di Indonesia, Gran Fondo Jawa Pos (GFJP) Suramadu 2017, dihelat pagi ini. Jumlah pesertanya mencapai 1.300 cyclist dari sembilan negara, termasuk Indonesia. Makin spesial karena ada bintang tamu istimewa, seorang legenda kondang dan ikonik asal Jerman, Jens Voigt.

"Bahwa Jens Voigt ikut itu sudah istimewa dan spesial. Apalagi, besok itu (hari ini, Red) adalah Gran Fondo terbesar di Indonesia," ucap Azrul Ananda, direktur utama PT Jawa Pos Koran.

"Beruntung Surabaya kedatangan Jens Voigt. Dia ini sangat terkenal. Domestique (tukang tarik para bintang dalam sebuah tim, Red) yang sangat pekerja keras dan terus attack pada setiap balapan yang dia ikuti. Itu yang membuat dia disukai banyak orang," imbuh Azrul.

Pagi ini, start pukul 07.00 WIB dari Kenjeran Park Surabaya, Voigt bersama 1.300 peserta melahap etape sejauh 157 kilometer (km). Mengambil titik start dan finis di Kenjeran Park Surabaya, rombongan cyclist bakal menyeberang ke Pulau Madura. Selain melewati jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu, dua kali pergi-pulang, rombongan akan menyusuri sejumlah spot menarik di Kabupaten Bangkalan.

Ada dua kali pit stop. Yakni di lapangan sepak bola Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) TNI-AL di Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, pada kilometer 54 dan di area wisata tambang batu kapur Bukit Jaddih, Kecamatan Socah, di kilometer 102.

Rute GFJP Suramadu 2017 mengajak para cyclist beradu ketahanan fisik. Jalanan sepanjang 157 km memang didominasi dengan rute flat. Ada juga rute rolling yang berupa naik turun ringan ditambah dengan jalanan pedesaan sempit yang membutuhkan kedisiplinan dan kehati-hatian.

Namun, teriknya cuaca Pulau Madura dan angin pesisir pantai yang cukup kencang bakal menjadi tantangan tersendiri. Jika tidak ada mendung, suhu di Pulau Madura pada tengah hari berada di kisaran 33–40 derajat Celsius.

"Saya sangat siap. Apalagi, latihan khusus untuk mengikuti acara ini sudah rutin saya lakukan beberapa bulan terakhir," ucap Yan Sembiring, peserta yang merupakan dokter spesialis bedah jantung asal Surabaya. 

Tantangan besar yang dihadapi para peserta bakal terbayar lunas ketika mendapati pemandangan-pemandangan indah dan unik khas Pulau Madura sepanjang perjalanan. Sensasi menyeberangi Jembatan Suramadu tentu saja salah satunya. Ada juga tambang batu kapur Bukit Jaddih yang menjadi titik pit stop kedua.

Rombongan cyclist masih mendapat bonus pemandangan menarik ketika menyusuri kawasan Pelabuhan Kamal setelah beristirahat di pit stop pertama. Pelabuhan Kamal adalah area pusat penghancuran kapal menjadi besi tua.

Untuk pit stop kedua di area wisata Bukit Jaddih, para cyclist akan menikmati istirahat makan siang selama satu jam. Setelah berhenti di pit stop kedua, rombongan kembali bergerak ke titik finis di Kenjeran Park Surabaya.

"Di atas kertas, seharusnya (rute itu, Red) gampang. Tapi memang panasnya itu. Bagaimana me-manage minum yang penting (untuk cyclist). Enaknya, jaraknya tidak sampai 160 (kilometer). Pit stop-nya juga dua kali. Nanti kami bisa atur, di pit stop istirahat lebih lama atau bagaimana," ucap Azrul, yang juga road captain GFJP Suramadu 2017.

Average speed dari rombongan road captain akan berada di kisaran 22–26 km per jam. Namun, itu masih bisa disesuaikan dengan melihat kondisi dan situasi di lapangan. "Jadi, kami akan fleksibel. Kalau dianggap aman, on schedule. Kalau berat, kita bisa lebih lama di istirahat," tambah Azrul. (irr/nic/c11/nur)